GETWAY NEWS, BUSINESS & INSPIRATION – Apa yang terjadi ketika seorang ahli Teknologi Informasi (IT) selama 24 tahun memutuskan untuk meletakkan papan ketik dan mengambil spatula? Bagi Shahezad Contractor, jawabannya adalah sebuah kerajaan bisnis makanan cepat saji yang kini mengguncang pasar Amerika Serikat. Lewat bendera Cousin’s Burger, ia tidak hanya sekadar berjualan makanan, tapi juga menantang dominasi raksasa dunia seperti In-N-Out dan Shake Shack.
Hanya dalam waktu singkat sejak didirikan pada 2024, jaringan restorannya telah mencatatkan pendapatan fantastis senilai US$4,3 juta atau setara Rp67,2 miliar sepanjang tahun 2025. Contractor membuktikan bahwa label “Halal” bukan lagi sekadar ceruk pasar kecil, melainkan magnet ekonomi baru di Negeri Paman Sam.
BACA JUGA: BCA Guyur Pemegang Saham Rp336 per Lembar dan Siapkan Gebrakan Buyback Rp5 Triliun
Titik Balik: 500 Burger yang Mengubah Nasib
Perjalanan Contractor dimulai dari sebuah ketidaksengajaan yang berbuah manis. Pada tahun 2023, saat ia masih berkarier di sektor IT, ia mencoba peruntungan dengan membuka stan smashburger di sebuah festival makanan halal.
Hasilnya di luar dugaan: 500 porsi ludes dalam satu hari. “Saat itulah saya menyadari ada kekosongan besar di pasar yang belum tergarap,” kenangnya. Kesuksesan instan ini memberinya keberanian untuk melakukan pivot karier yang ekstrem. Ia melihat bahwa meskipun populasi Muslim di AS terus bertumbuh, pilihan makanan cepat saji halal berkualitas yang setara dengan merek mainstream masih sangat terbatas.
BACA JUGA: Emas Mencoba Bangkit di Tengah Badai Geopolitik: Akankah Safe Haven Kembali Menemukan Tajinya?
Strategi “Smashburger”: Kualitas Premium, Harga Kompetitif
Berbasis di Philadelphia, Pennsylvania, Contractor mendirikan Cousin’s Food Inc. sebagai payung bagi gurita bisnisnya yang kini mencakup delapan gerai di tiga negara bagian: Pennsylvania, New Jersey, dan Delaware. Strategi utamanya sangat sederhana namun mematikan: Kualitas, Kesederhanaan, dan Pelayanan.
Mengapa Halal Menjadi Tren Global?
Contractor menegaskan sebuah fakta penting: “Anda tidak harus menjadi Muslim untuk menikmati makanan halal.” Di Amerika Serikat, tren konsumsi daging halal meningkat karena tiga alasan utama:
-
Kebersihan & Higienitas: Standar pemrosesan yang ketat.
-
Kualitas Daging: Tekstur dan rasa yang dianggap lebih unggul oleh banyak kritikus kuliner.
-
Etika: Proses penyembelihan yang dianggap lebih manusiawi dibandingkan metode industri masal.
Menu andalannya, smashburger—daging sapi yang ditekan kuat di atas panggangan panas untuk menciptakan kerak karamelisasi yang gurih—dijual di kisaran US$7 hingga US$8 (sekitar Rp110.000 – Rp125.000). Harga ini diposisikan untuk bersaing langsung dengan pemain premium fast food lainnya.
BACA JUGA: Kisah 3 Miliarder Muslim Penakluk Dunia dari Semen hingga Sepak Bola
Melawan Arus: Meninggalkan IT Demi Kekayaan Lintas Generasi
Salah satu alasan unik di balik keputusan Contractor meninggalkan karier stabil di dunia IT adalah pandangannya terhadap masa depan. Di tengah masifnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), ia merasa bahwa bisnis fisik yang menyentuh kebutuhan dasar manusia—seperti makanan—memiliki ketahanan yang lebih baik.
“Membangun sesuatu yang bisa menciptakan kekayaan lintas generasi (generational wealth) jauh lebih menarik daripada terus berada di belakang layar komputer,” ungkapnya kepada CNBC International. Ia ingin menciptakan warisan yang bisa diteruskan oleh anak cucunya, sesuatu yang sulit didapat hanya dengan menjadi karyawan korporat.
Tantangan Ekonomi: Inflasi dan Biaya Operasional
Tentu saja, jalan menuju “Raja Burger” tidak selalu mulus. Contractor secara jujur mengakui adanya tekanan ekonomi yang berat di tahun 2026. Lonjakan harga bahan baku, biaya sewa properti di lokasi strategis, hingga standar upah tenaga kerja yang meningkat menjadi tantangan harian.
“Saya ingin bisa menjual burger seharga US$4 (Rp60 ribuan), tapi secara ekonomi itu tidak masuk akal saat ini,” akunya. Namun, alih-alih menurunkan kualitas bahan, ia memilih untuk mengoptimalkan efisiensi operasional dan memperkuat loyalitas pelanggan guna menjaga margin keuntungan tetap sehat.
Visi 2026-2030: Ekspansi Global ke Kanada dan Seterusnya
Contractor tidak ingin berhenti di delapan gerai. Visi besarnya adalah membawa Cousin’s Burger menembus angka 50 gerai dalam beberapa tahun ke depan. Ekspansi internasional pertama yang dibidik adalah Kanada, pasar yang juga memiliki basis konsumen halal yang sangat besar dan progresif.
Dengan lini bisnis tambahan seperti Cousin’s Pizza dan Cousin’s Smokehouse, ia sedang membangun ekosistem kuliner halal yang terintegrasi. Ambisinya jelas: menjadikan nama “Cousin’s” identik dengan standar emas makanan cepat saji halal di dunia Barat.
Analisis GetWay: Peluang Emas Industri Halal
Bagi pembaca GetWay News yang tertarik di dunia wirausaha, kisah Shahezad Contractor memberikan tiga pelajaran penting:
-
Validasi Pasar itu Penting: Jangan ragu memulai dari skala kecil (seperti festival) untuk menguji produk Anda sebelum terjun penuh.
-
Narasi Produk: Menjual “Halal” bukan hanya soal agama, tapi soal kualitas dan etika yang bisa diterima oleh semua kalangan (universal appeal).
-
Keberanian Beradaptasi: Jangan takut meninggalkan zona nyaman (seperti karier IT) jika Anda melihat peluang yang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.
Kesimpulan: Burger yang Mempersatukan
Shahezad Contractor telah membuktikan bahwa dengan resep yang tepat dan visi yang tajam, seorang “orang luar” di industri kuliner bisa menjadi pemain kunci. Cousin’s Burger bukan sekadar tempat makan; ini adalah bukti bahwa industri halal siap bersaing di panggung utama ekonomi global.













Leave a Reply